MAKALAH
SEMANTIK
Disusun oleh:
NURLIANA 1501403033
BAHASA
DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS
KEGURUAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
COKROAMINOTO PALOPO
2017
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang
Maha Esa atas limpahan rahmat dan karuniaNya sehingga penulis dapat
menyelesaikan tugas makalah ini yang berjudul “Makna Leksikal dan Makna Kalimat”
dalam semantik. Penulisan makalah ini
bertujuan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah semantic bahasa Indonesia. Makalah ini ditulis
berdasarkan berbagai sumber yang
berkaitan dengan materi.
Tak lupa penulis sampaikan terima kasih kepada
pengajar mata kuliah semantic bahasa Indonesia atas bimbingan dan arahan dalam
mata kuliah ini dan penulis berharap bagi pembaca untuk dapat memberikan
pandangan dan wawasan agar makalah ini menjadi lebih sempurna kedepannya.
Sekian dan terima kasih.
Palopo,
14 Mei 2017
Penulis
Daftar Isi
Sampul
.........................................................................................................................................
Kata
Pengantar ............................................................................................................................. i
Daftar
Isi....................................................................................................................................... ii
BAB
I Pendahuluan...................................................................................................................... 1
1.1 Latar
Belakang.................................................................................................................. 1
1.2 Rumusan
Masalah............................................................................................................. 1
1.3 Tujuan
Penelitian............................................................................................................... 1
1.4 Manfaat
............................................................................................................................ 2
BAB
II Pembahasan .................................................................................................................... 3
2.1 Makna
Leksikal dan Makna Kalimat................................................................................ 3
2.1.1 Makna Leksikal........................................................................................................ 3
2.1.1.1 Kata Sebagai Unit Makna.............................................................................. 3
2.1.1.2 Makna Kata Dasar (Leksem)......................................................................... 3
2.1.1.3 Makna Paduan Leksem.................................................................................. 4
2.1.1.4 Makna Kata Bebas......................................................................................... 4
2.1.1.5 Makna Kata Berimbuhan .............................................................................. 5
2.1.1.6 Makna Kata Berulang.................................................................................... 7
2.1.1.7 Makna Kata Dalam Konteks.......................................................................... 9
2.1.1.8 Makna Kata Plesetan..................................................................................... 10
2.1.2 Makna
Kalimat......................................................................................................... 12
2.1.2.1 Kalimat Bermakna dan Kalimat Tak
Bermakna............................................ 12
2.1.2.2 Makna Semantis Unsur Kalimat.................................................................... 12
2.1.2.3 Kalimat, Makna, Isi, dan
Proposisi................................................................ 16
2.1.2.4 Kalimat Sederhana dan Kompleks ................................................................ 17
2.1.2.5 Makna Kalimat Interogatif
dan Deklartif .................................................... 18
2.1.2.6 Makna Kalimat Imperatif .............................................................................. 19
BAB
III Penutup.......................................................................................................................... 20
3.1 Simpulan
........................................................................................................................... 20
3.2 Saran
................................................................................................................................. 20
Daftar
Pustaka.............................................................................................................................. iv
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Dalam
semantik terdapat makna leksikal dan makna kalimat yang mengkaji beberapa hal
didalamnya. Makna
Leksikal merupakan makna yang sesuai dengan hasil observasi indra yang dimiliki
manusia, sehingga makna yang tercipta merupakan makna yang sebenarnya, apa adanya, dan terdapat dalam kamus
(makna dalam kamus sering disebut dengan makna dasr atau makna konkret).
Kalimat
sederhana adalah kalimat yang dibentuk oleh fungsi-fungsi pokok, yakni terdiri
atas subjek, predikat, dan objek / pelengkap. Oleh karena itu kalimat sederhana
selalu dibentuk oleh satu klausa. Kalimat sederhana sering pula disebut kalimat
inti.
Banyak
kajian teori mengenai bahasa. Salah satunya kajian tentang semantik. Namun, pada umumnya
teori dengan bukti lapangan seringnya tidak berjalan berdampingan. Oleh karena
itu, penulis merasa perlu untuk menyusun
makalah ini agar dapat membantu penulis pada khususnya dan pembaca pada umumnya
untuk mengetahui materi mengenai semantik bahasa Indonesia, terkhusus lagi pada makna leksikal dan makna kalimat
1.2
Rumusan
Masalah
Adapun rumusan masalah dari makalah ini, yakni, bagaimanakah
makna leksikal dan makna kalimat dalam semantik.
1.3
Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian dari
makalah ini, yaitu : Untuk mengetahui makna leksikal dan makna kalimat dalam
semantik.
1.4
Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian dari
makalah ini yaitu, agar dapat membantu pembaca pada umumnya memahami makna
leksikal dan makna kalimat dalam semantik bahasa Indonesia,
PEMBAHASAN
2.1 Makna
Leksikal dan Makna Kalimat
2.1.1
Makna Leksikal
Makna Leksikal dapat juga disebut makna sebenarnya. Makna
Leksikal merupakan makna yang sesuai dengan hasil observasi indra yang dimiliki
manusia, sehingga makna yang tercipta merupakan makna yang sebenarnya, apa
adanya, dan terdapat dalam kamus (makna dalam kamus sering disebut dengan makna
dasar atau makna konkret). Makna ini bersifat tetap dan pasti karena mengikuti
kamus yang ada. Kamus yang menjadi acuan dalam bahasa Indonesia yakni Kamus
Besar Bahasa Indonesia. Misalnya leksem ‘kuda’ merupakan sejenis binatang
berkaki empat yang digunakan sebagai alat transportasi atau ‘air’ bermakna
sejenis barang cair yang biasa digunakan untuk keperluan sehari-hari.
2.1.1.1
Kata Sebagai Unit Makna.
Kata adalah suatu unit dari suatu bahasa yang mengandung arti dan terdiri dari
satu atau lebih morfem. Umumnya kata terdiri dari satu akar
kata tanpa atau dengan beberapa afiks. Gabungan kata-kata dapat membentuk frasa, klausa, atau kalimat.
2.1.1.2
Makna Kata Dasar (Leksem).
Makna dalam leksem yang dimaksud di sini, yakni bentuk yang
sudah dapat di perhitungkan sebagai kata. Dalam BI terdapa bentuk seperti ini: kunci,
lompat, makan, pagar tidur. Bentuk kunci dapat menghasilkan bentuk turunan
dikunci, mengunci, dan kata pagar dapat diberi imbuhan sehing menjadi dipagari,
memagari, terpagar. Kata kunci dan pagar telah memiliki makna leksikal. Dan
demikian pula kata dikunci, mengunci, dipagari, memagari, terpagar.
Semantara itu bentuk lompat, makan, tidur dapat muncu dalam
kalimat, misalnya “ ayo, lompat!” “Ayah, silakan makan!” “Sebaiknya engkau
tidur sebab sudah larut malam.” Timbulah pertanyaan, apakah makna leksikal
bentuk-bentuk seperti itu? Bentuk- bentuk seperti ini menurut Verhaar (1983:9)
maknanya dapat dengan muda dicarai dalam kamus, misalanya didalam Kamus
Besar Bahasa Indonesa (debdikbud, 1993)
2.1.1.3
Makna Paduan Leksem.
Ada tiga istila yang perlu dicermati pada bagian ini,
yakni idiom, kata majemuk, dan paduan leksem. Harimurti (1983:107) mengatakan,
“Idiom adalah konstrintusi yang maknanya tidak sama dengan makna
komponen-komponennya. “sedangan semi idion adalah konstrusi yang salah satu
komponenya mengandung makna khas yang ada dalam konstruksi itu saja. Idiom
misalya buah bibir yang bermakna bahan pembicaraan; busuk hati yang bermakna
jahat, dengki, khianat; jantung hati yang bermakna orang yang disayanngi; makna
angin bermakna jalan-jalan.
Kata majemuk adalah gabungan morfen
dasar yang seluruhnya berstatus sebagai kata yang mempunyai pola fonologis,
gramatikal, dan semantik yang khusus menurut kaidah bahasa yang bersangkutan.
Makna kata majemuk bukanlah makna unsur-unsurnya, atau makna gabungan
unsur-unsurny, tetapi makna baru, makana lain dari unsur-unsurnya. Contoh, batu
api yang makna sejenis bahan yang dapat menimbulkan api yang ada di dalam
geretan.
2.1.1.4
Makna Kata Bebas.
Yang dimaksud dengan kata bebas yaitu kata-kata yang dapat
berdiri sendiri dalam ujaran tampa pendapat imbuhan atau tampa di dampingi kata
yang lain. Kata bebas pada umumnya berkategori nomina. Ambilah kata arang. Kata
arang bermakna:
1. Bahan bakar yang hitam warnanya dibuat atau terjadi dari bara kayu yang dipengap
2. Serbuk hitam bekas kayu yang di bakar
(Depdikbud, 1993:54).
Ingin diingatkan pula bahwa kata-kata
bebas dapat saja maknanya bergeser apabila kata-kata tersebut berada
dalam kalimat. Contoh: kata kawat bermakna logam yang biasa dipakai
sebagai tali. Kalau orang berkata, “kirim kawat kepadanya yang
menyatakan bahwa kerabatnya telah meninggal, “makna kawat disini bukan lagi logam untuk
tali, tetapi telegram atau berita yang dikirim melaui kantor Telkom.
2.1.1.5
Makna Kata Berimbuhan.
Makna proses afiksasi atau pengimbuhan berhubungan dengan
fungsi semantik pada suatu bentuk yang kompleks. Hal tersebut dapat kita lihat
pada beberapa contoh makna pengimbuhan (afiksasi) pada imbuhan berikut ini:
2.1.1.5.1Makna – makna prefiks meng-
·
Mengandung makna melakukan perbuatan. Contoh :
o Mengambil (berarti melakukan
perbuatan ambil)
o Menjual (berarti melakukan perbuatan
jual)
·
mengandung makna membuat. Contoh :
o menyate (berarti membuat sate)
o menggambar (berarti membuat gambar)
·
mengandung makna membuat dengan alat. Contoh :
o menyabit (berarti membuat dengan
alat sabit)
o menyangkul (berarti membuat dengan
alat cangkul)
·
mengandung makna menuju ke. Contoh :
o melaut (berarti menuju ke laut)
o menepi (berarti menuju ku tepi)
·
mengandung makna memberi. Contoh :
o menandai (berarti memberi tanda)
o menopang (berarti memberi topang)
o menomori (berarti memberi nomor)
2.1.1.5.2. Makna-makna prefiks ber-:
·
mengandung makna mempunyai. Contoh :
o beratap (berarti mempunyai atap)
o beranak (berarti mempunyai anak)
o berhasil (berarti mempunyai hasil)
·
mengandung makna mengeluarkan. Contoh :
o bertelur (berarti mengeluarkan
telur)
o berbau (berarti mengeluarkan bau)
o berkata (berarti mengeluarkan kata)
2.1.1.5.3. Makna-makna prefiks ter-
·
mengandung makna superlatif (paling). Contoh :
o tercantik (berarti yang paling
cantik)
o tertinggi (berarti yang paling
tinggi)
·
mengandung makna tidak sengaja. Contoh :
o tertidur (berarti tidak sengaja
tidur)
2.1.1.5.4.
Makna-makna prefis peng-:
·
menyatakan sasaran atau mempunyai makna orang yang di-. Contoh :
o pesuruh (berarti orang yang
disuruh)
·
menyatakan pekerjaan atau mempunyai makna orang yang
berprofesi . Contoh :
o pengajar (berarti orang yang berfrofesi dalam hal
mengajar)
2.1.1.5.
Makna Sufiks-an
·
mengandung makna cara. Contoh :
o Didikan (berarti cara mendidik)
·
mengandung makna akibat atau hasil perbuatan. Contoh :
o Hukuman (berarti akibat dari hokum )
·
Mengandung makna sesuatu yang di-. Contoh :
o Catatan (berarti sesuatu yang dicatat)
2.1.1.6
Makna Kata Berulang.
Kata ulang merupakan kata yang mengalami perulangan kata
sebagian atau seluruhnya dan mengakibatkannya makna yang berbeda-beda.
Pengulangan adalah proses pembentukan kata dengan mengulang bentuk dasar, baik
secara utuh maupun sebagian, baik dengan variasi fonem maupun tidak. (Soedjito,
1995: 109) sedangakan menurut ramlan ( 1985:57) menyimpulkan “Proses
pengulangan atau reduplikasi adalah pengulangan satuan gramatik, baik
seluruhnya maupun sebagiannya, baik dengan variasi fonem maupun tidak. Jadi
kata ulang ialah kata hasil pengulangan bentuk dasar baik seluruhnya maupun
bagiannya.
Ciri-ciri bentuk kata dasar ulang
bahasa Indonesia sebagai berikut:
1. Kelas kata bentuk
dasar kata ulang sama dengan kelas kata-kata ulangnya.
Berdasarkan ciri di atas dapat dikemukakan
bahwa suatu suatu kata ulang berkelas kata benda (nomina), bentuk dasarnya pun
berkelas kata benda, begitu juga, apabila kata ulang itu berkelas kata ulang
berkelas kata kerja.
Contoh :
|
Kata ulang
|
Bentuk dasarnya
|
|
Gedung-gedung (kata benda)
|
Gedung (kata benda)
|
|
Sayur-sayuran (kata benda)
|
Sayur (kata benda)
|
|
Peraturan-peraturan(kata benda)
|
Peraturan ( kata benda)
|
|
Membaca-baca (kata kerja)
|
Membaca (kata kerja)
|
|
Berlari-lari (kata kerja)
|
Berlari (kata kerja)
|
|
Pelan-pelan (kata sifat)
|
Pelan (kata sifat)
|
|
Tiga-tiga (kata bilangan)
|
Tiga (kata bilangan)
|
2. Bentuk dasar Kata Ulang Selalu Ada dalam
Pemakaian Bahasa
Maksud dalam pemakaian bahasa adalah dapat dipakai dalam
konteks kalimat. Misalnya, apabila kata ulang mengata-ngatakan dapat dapakai
dalam kalimat Dia rupanya mengata-ngatakan persoalan itu kepada teman-temannya,
bentuk dasarnya pun harus dapat dipakai dalam konteks kalimat. Bentuk dasanya
adalah mengatakan (sebab hanya bentuk inilah yang dapat dipakai dalam konteks
kalimat). Berdasrkan ciri-ciri berikut ini, beberapa contoh kata ulang beserta
bentuk dasarnya dapat terlihat pada tabel berikut:
|
Kata ulang
|
Bentuk dasarnya
|
|
Melaku-lakukan
|
Melakukan bukan melaku
|
|
Menyatu-nyatukan
|
Menyatukan bukan menyatu
|
|
Melari-larikan
|
Melarikan bukan larika
|
|
Mempertunjuk-tunjukan
|
Mempertunjukan bukan mempertunjukan
|
|
Bergerak-gerak
|
Bergerak, bukan gerak (sebab kelas
katanya berbeda dengan kata ulang)
|
3. Arti
Bentuk Dasar Kata Ulang selalu Berhubungan dengan Arti Kata Ulangnya
Berdasrkan ciri ini, jelaslah bahwa
bentuk alun merupakan bentuk dasar dari kata alun-alun, bentuk undang bukan
merupakan bentuk dasar undang-undang, bentuk agar bukan merupakan bentuk dasar
agar-agar.
4. Bentuk
Ulang Ditulis dengan Menggunakan Tanda Hubung di antara unsur-unsurnya.
Misalnya: Anak-anak, mata-mata, berjalan-jalan,
menulis-nulis, mondar mandir dan ramah-tamah.
2.1.1.7
Makna Kata dalam Konteks.
·
Makna
Kontekstual
Dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia Edisi Keempat, yang dimaksud konteks adalah bagian suatu uraian atau
kalimat yang dapat mengandung atau menambah kejelasan makna. Menurut Susilo
yang dimaksud dengan konteks adalah segenap informasi yang berada disekitar
pemakaian bahasa, bahkan termasuk juga pemakaian bahasa yang ada disekitarnya
(Preston, 1984:12).
Sarwiji (2008:71) memaparkan bahwa makna kontekstual (contextual meaning; situational meaning) muncul
sebagai akibat hubungan antara ujaran dan situasi pada waktu ujaran dipakai.
Beliau juga berpendapat bahwa makna kontekstual adalah makna kata yang sesuai
dengan konteksnya (2008:72). Dalam buku linguistik umum Chaer mengungkapkan
bahwa makna kontekstual adalah makna sebuah leksem atau kata yang berada di
dalam konteks. Makna konteks juga dapat berkenaan dengan situasinya yakni
tempat, waktu, lingkungan, penggunaan leksem tersebut (1994:290).
Dari beberapa uraian diatas
maksud dari makna kontekstual dapat diartikan sebagai makna kata atau leksem
yang berada pada suatu uraian atau kalimat yang dapat mengandung atau menambah
kejelasan makna, yang dipengaruh oleh situasi, tempat, waktu, lingkungan
penggunaan kata tersebut. Artinya, munculnya makna kontekstual bisa disebabkan
oleh situasi, tempat, waktu, dan lingkungan. Misalnya, penggunaan makna
kontekstual adalah terdapat pada kalimat berikut.
a. Kaki adik terluka karena menginjak pecahan
kaca.
b.
Nenek mencari kayu bakar di kaki gunung.
c.
Pensilku terjepit di kaki meja.
d.
Jempol kakinya bernanah karena luka infeksi.
Penggunaan kata kaki pada
kalimat diatas, bila ditilik pada konteks kalimatnya memiliki makna yang
berbeda. Pada kalimat (a), kata kaki berarti ‘alat gerak bagian bawah pada
tubuh makhluk hidup’. Sedangkan pada kalimat (b), kata kaki disana memiliki
arti ‘bagian bawah dari sebuah tempat’. Untuk kalimat (c), kata kaki merupakan
‘bagian bawah dari sebuah benda’. Berbeda dengan kalimat (d), kata kaki disana
memiliki makna ‘bagian dari alat gerak bagian bawah makhluk hidup’. Kata kaki
pada hakikatnya, mengandung maksud bagian terbawah dari sebuah objek. Tetapi,
dalam penggunaa kata tersebut juga harus disesuaikan dengan konteks, sehingga
tidak terjadi kesalahpahaman dalam pengartian kata kaki.
2.1.1.8
Makna Kata Plesetan.
Dalam hubungan dengan makna yang
diplesetkan, Heryanto (dalam Pateda, 2011:153) membagi bentuk yang diplesetkan
atas tiga jenis. Jenis Pertama, jenis plesetan untuk berplesetan
itu sendiri. Pada jenis ini yang terjadi adalah kenikmatan bermain-main bahasa
di dalam bahasa itu sendiri tanpa mempedulikan kaitannya dengan dunia di luar
bahasa. Jenis pertama terdiri dari dua subkategori yakni:
1. Subkategori pertama merupakan plesetan yang menuntut
kemahiran, mengundang tawa penonton dengan mendistorsi kata sehingga terbentuk
kata-kata lain yang sebenarnya tidak mempunyai sangkut paut atau justru tidak
bermakna tetapi terdengar lucu jika dibincangkan. Misalnya katapartisipasi dapat
diplesetkan dengan bentuk partisisapi.
2. Subkategori kedua yakni
sejumlah graffiti yang mendistorsikan istilah pribumi menjadi sedikit
kebarat-baratan tanpa sepenuhnya melenyapkan unsur pribumi itu. Misalnya pada
kata warung Takashimura dapat diplesetkan dengan bahasa
Jawa tak kasih murah.
Jenis Kedua merupakan plesetan alternatif yang
mengajukan sebuah penalaran atau acuan alternatif terhadap yang sudah atau
sedang lazim dalam masyarakat. Dalam plesetan jenis keduaini terjadi penjegalan
terhadap sesuatu yang sudah lazim dalam masyarakat. Ada dua subkategori yakni:
1. Subkategori
pertama yaitu sejumlah praktik berbahasa di antara para remaja yang
biasa disebut bahasa prokem atau walikan. Plesetan jenis prokem mrengubah
penanda, bukan makna atau hubungan referensial dengan realitas di luar bahasa.
2. Subkategori
Kedua yakni plesetan seperti yang tampak pada karya-karya atau teater
Putu Wijaya. Pada karya Putu Wijaya yang tak hanya sekadar memberikan
lelucon-lelucon tetapi juga menampilkan persoalan-persoalan kehidupan
masyarakat secarasungguh-sungguh. Dengan kata lain plesetan bukan untuk
berpleset tapi plesetan yangmengandung kritik.
Jenis Ketiga yakni plesetan oposisi karena
ia memberikan nalar dan acuan secara konfrontatif betubrukan apa yang
sudah atau sedang lazim dalam masyarakat. Plesetan jenis ini bukan sekadar
menggantikan satu tanda atau makna dengan tanda atau makna lain, tetapi
menjungkirbalikkan nilai perlawanan frontal terhadap tanda atau makna yang
telah ada. Yang banyak menjadi sasaran plesetan jenis ini adalah singkatan.
Misalnya singkatanRumah Sangat Sederhana (RSS), diplesetkan
menjadi Rumah SangatSengsara.
Pada dasarnya jenis plesetan yang
pertama (plesetan untuk berplesetan) tidak berminat menyampaikan pesan atau
komentar apapun tentang realitas dunia di luar bahasa. Dengan kata lain, makna
lepas dari acuan.
Plesetan jenis kedua (plesetan
alternatif) menggugat penunggalan makna lazim tanpa berusaha meniadakan yang
terlanjur lazim, sedangkan pada plesetan jenis ke tiga (plesetan oposisi),
orang bukan terbuai pada kenikmatan bermain-main degan penanda, atau memberikan
kemajemukan nilai alternatif pada acuan realitas, tetapi mengukuhkansuatu nilai
tanding terhadap yang sudah lazim dalam masyarakat.
Plesetan merupakan gejala baru dalam
penggunaan bahasa Indonesia. plesetan berhubungan dengan perkembangan pemikiran
pemakai bahasa untuk menyampaikan pikiran, perasaan, dan kemauannya. Masalah
kini, yakni, apakah plesetan dianggap sebagai senjata ampuh kaum lemah melawan
kaum yang beruntung, atau plesetan hanya berbentuk pelarian diri dari kenyataan
yang sulit.
2.1.2
Makna Kalimat.
2.1.2.1
Kalimat Bermakna dan Tak Bermakna
Makna adalah arti atau maksud
yang tersimpul dari suatu kata, jadi makna dengan bendanya sangat bertautan dan
saling menyatu. Jika suatu kata tidak bisa dihubungkan dengan bendanya, peristiwa atau keadaan tertentu
maka kita tidak bisa memperoleh makna dari kata itu (Tjiptadi, 1984: 19).
Sebagaimana yang diuraikan di
atas kalimat bermakna merupakan kalimat yang apabila si penutur dan pendengar
saling merespon suatu pembicaraan yang terjadi sehingga terjadilah proses
komunikasi sebagaimana yang di inginkan (proses terjadinya makna). Kalimat tak
bermakna merupakan sebuah kalimat yang apabila si penutur dan pendengar tidak
saling satu pemahaman, kalimat tak bermakna ini juga dapat terjadi apabila
terdapat kalimat yang tidak dapat dipahami atau rancu dari segi pemahaman serta
susunan kalimatnya tidak beraturan.
2.1.2.2
Peran Semantis Unsur Kalimat
Analisis kalimat berdasarkan peran
menagacu pada makna pengisi unsur-unsur fungsional kalimat. Dan
menurut (Verhaar, 1996) mengatakan, bahwa ‘peran’ adalah segi
semantis dari peserta-peserta verba. Dan unsur-unsur peran ini berkaitan dengan
makna gramatikal/sintaksis. Dengan pengisian unsur peran ini, dapatlah
diketahui makna yang ada pada masing-masing unsur-unsur fungsional tersebut.
Makna pengisi unsur-unsur fungsional
kalimat dapat diuraikan sebagai berikut.
·
Makna unsur pengisi subjek (S)
(Ramlan, 1996) mengemukakan beberapa kemungkinan makna
unsur pengisi S, yaitu:
-
Menyatakan ‘pelaku’
Mislnya:
Seorang gadis membeli
empat batang lilin.
Mereka sedang mengerjakan
tugas-tugas.
-
Menyatakan ‘alat’
Misalnya:
Bus-bus itu mengangkut penumpang.
Truk-truk itu
mengangkut penumpang.
-
Menyatakan ‘sebab’
Misalnya:
Banjir besar itu sedang
menghancurkan kota.
Perapian itu memanaskan kamar.
-
Menyatakan ‘hasil’
Misalnya:
Rumah-rumah murah
banyak didirikan pemerintah.
Hotel-hotel mewah telah dibangun pengusaha.
-
Menyakan ‘tempat’
Misalnya:
Pantai kuta banyak
dikujngi oleh orang.
Kebunnya ditanami pohon mangga.
-
Menyatakan ‘jumlah’
Misalnya:
Kaki anjing itu
ada empat.
Rumah pengusaha
itu tujuh buah.
·
makna unsur pengisi predikat (P)
(Ramlan, 1996) mengungkapkan,
bahwa maka unsur pengisipredikat adala:
-
Meyatakan’perbuatan’
Misalnya:
Ria sedang belajar.
Gadis itu memetik bunga.
-
Menytakan ‘keadaan’
Misalnya:
Rambutnya hiatm dan lebat.
Rumah itu sangat besar.
-
Menyatakan’pengenal’
Misalnya:
Orang itu pegawai kedutaan.
Gedung itu gedung bupati.
-
Menyatakan ‘keberadaan’
Misalnya:
Para tamu berada di
ruang depan.
Mereka bermukim di
tepi pantai.
·
Makna unsur pengisi objek (O)
Kemungkinan makna unsur pengisi O adalah:
-
Menyatakan ‘penderita’
Misalnya:
Tuti mencuci pakaian.
Budi meletakan bonekanya.
-
Menyatakan ‘tempat’
Misalnya:
Para wisatawan
mengunjungi pura besakih.
Petani itu
menanami tegalannya dengan ubi-ubian.
-
Menyatakan ‘alat’
Misalnya:
Polisi menembakan pistolnya.
Pangeran itu mengayunkan pedangnya.
·
Makna unsur pengisi pelengkap (Pel)
Unsur pengisi pelengkap memilik makna
sebagai berikut.
-
Menyatakan ‘penderita’
Misalnya:
Mahasiswa itu belajar bahasa indonesia.
Mereka bermain bola.
-
Menyatakan ‘alat’
Misalnya:
Tentara kita yang bersenjatakan bambu
runcing.
Anak itu berteduhkan daun
pisang.
·
Makna unsur pengisi keterangan (K)
Makna unsur pengisi keterangan dapat dijelaskan sebagai
berikut.
-
Menyatakan ‘tempat’
Misalnya:
Ria sedang belajar di kamar.
Ibu memasak di dapur.
-
Menyatakan ‘waktu’
Misalnya:
Bapak pergi ke bandung besok
pagi.
Rapornya sudah diambil.
-
Menyatakan ‘cara’
Misalnya:
Pencuri itu
lari dengan cepat.
Dia belajar dengan tekun.
-
Menyatakan ‘alat’
Misalnya:
Buruh itu mengangkut beras dengan
truk.
Ani memotong kertas dengan gunting.
-
Menyatakan ‘sebab’
Misalnya:
Dia tidak masuk karena sakit.
Dia mendapat nilai jelek karena
tidak belajar.
Berdasarkan urain di atas, tanpak bahwa
fungsi, kategori, dan peran tidak ada hubungan satu lawan satu. Fungsi
merupakan suatu ‘temapat’ dalam stuktur kalimat dengan unsur pengisi berupa
bentuk bahasa yang tergolong dalam kategori tertentu dan mempunyai peran
semantis tertentu.
2.1.2.3
Kalimat, Makna, dan Isi Proposisi.
Proposisi adalah suatu ekspresi verbal dari keputusan yang
berisi pengakuan atau pengingkaran sesuatu predikat terhadap suatu yang lain,
yang dapat dinilai bener atau salah
Jenis-jenis proposisi terbagimenjadi 4 bagian :
1. Proposisi berdasarkan Bentuk :
a. proposisi tunggal adalah proposisi yang memiliki 1 subjek
dan 1 predikat.
Contoh : Unie menyayi
Ayah membaca Koran
b. Proposisi majemuk adalah proposisi yang memiliki 1 subjek
dan lebih dari 1 predikat.
Contoh : Indra belajar bermain piano dan menyayi di studio
Adik Belajar bahasa indonesia dan membuat kalimat majemuk
2.Proposisi berdasarkan Sifat :
Adik Belajar bahasa indonesia dan membuat kalimat majemuk
2.Proposisi berdasarkan Sifat :
a. Proposisi Kategorial adalah proposisi dimana hubungan
antara subyek dan predikatnya mempunyai syarat apapun
Contoh : Semua Perempuan di indonesia akan mengalami Menstruasi
Setiap mengendarai mobil harus memakai seftybeld
b. Proposisi kondisional adalah proposisi dimana hubungan antara subjek dan predikat membutuhkan syarat tertentu.
Contoh : Jika yogi lulus UN maka saya akan berikan hadiah
Jika saya lulus penelitian ilmiah maka saya akan mengadakan syukuran
3. Proposisi berdasarkan kualitas:
Contoh : Semua Perempuan di indonesia akan mengalami Menstruasi
Setiap mengendarai mobil harus memakai seftybeld
b. Proposisi kondisional adalah proposisi dimana hubungan antara subjek dan predikat membutuhkan syarat tertentu.
Contoh : Jika yogi lulus UN maka saya akan berikan hadiah
Jika saya lulus penelitian ilmiah maka saya akan mengadakan syukuran
3. Proposisi berdasarkan kualitas:
a. proporsisi positif, yaitu proporsisi dimana predikatnya
mendukung atau membenarkan subjeknya.
Contoh : Semua gajah berbadan besar
Semua ilmuwan adalah orang pandai
b. proporsisi negatif, yaitu proporsisi dimana predikatnya
menolak atau tidak mendukung subjeknya.
Contoh : Tidak ada wanita yang berjenggot
Tidak ada binatang yang bisa bicara
4. proporsisi berdasarkan kuantitas:
a.
proporsisi universal, yaitu proporsisi dimana predikatnya
mendukung atau mengingkari semua.
Contoh :
Semua warga Indonesia mememiliki KTP
Semua masyarakat mematuhi peratura lalulintas
Semua masyarakat mematuhi peratura lalulintas
b.
proporsisi spesifik / khusus, yaitu proporsisi yang
predikatnya membenarkan sebagian subjek.
Contoh : Tidak semua murid patuh kepada gurunya
Contoh : Tidak semua murid patuh kepada gurunya
2.1.2.4
Kalimat Sederhana dan Kompleks
2.
Kalimat sederhana
Kalimat
sederhana adalah kalimat yang dibentuk oleh fungsi-fungsi pokok, yakni terdiri
atas subjek, predikat, dan objek / pelengkap. Oleh karena itu kalimat sederhana
selalu dibentuk oleh satu klausa. Kalimat sederhana sering pula disebut kalimat
inti.
contoh
kalimat sederhana: Saya membeli jajan
2. Kalimat kompleks
Kalimat
kompleks adalah kalimat yang telah mengalami perluasan , baik itu berupa
penambahan fungsi keterangan ataupun dengan perluasan pada fungsi-wungsinya.
Kalimat kompleks dapat terdiri atas satu klausa ataupun dua klausa. Kalimat
kompleks
sering pula disebut kalimat luas.
contoh kalimat kompkeks: Saya membeli
jajan di warung
2.1.2.5
Makna Kalimat Interogatif dan Deklaratif
Sesuai dengan
makna asal dari kata interogasi, yang berarti pertanyaan. Kalimat interogatif
memiliki perngertian sebagai kalimat yang di dalamnya mengandung pertanyaan.
Kalimat ini berfungsi untuk menanyakan suatu informasi kepada orang lain.
Kalimat interogatif bisa dibedakan menjadi dua, yaitu :
Kalimat interogatif bisa dibedakan menjadi dua, yaitu :
1. kalimat interogatif yang membutuhkan jawaban Ya / Tidak
Contoh :
- Apakah kamu yang membawa kambing itu?
- Apakah dia orang yang
akan menikahimu?
- Apakah ayahmu seorang
polisi?
2. kalimat interogatif yang membutuhkan jawaban berupa informasi.
Contoh :
- Mengapa kamu pergi dari
rumah?
- Di mana kamu akan
tinggal setelah ini?
- Bagaimana cara untuk
membuat roti?
Dalam komunikasi sehari-hari kita membutuhkan kalimat yang sesuia dengan situasi, kondisi, dan tujuan komunikasi. Penggunaan kalimat secara tepat akan membantu keberhasilan komunikasi.
3.
Kalimat Deklaratif
Kata deklaratif berasal
dari bahasa latin, declaratio, yang artinya pernyataan. Sedangkan pengertian
kalimat deklaratif adalah kalimat berisi suatu pernyataan yang berfungsi untuk
memberi informasi atau berita tentang sesuatu hal.
Contoh Kalimat Deklaratif
:
- Orang tua saya telah
kembali dari Mekkah
- Tadi pagi ada
kecelakaan motor di depan rumah ani
- Saya akan menjenguk
nenek di rumah sakit
2.1.2.6
Makna Kalimat Imperatif
Menurut Kamus
Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pengertian kalimat imperatif adalah kalimat yang
bersifat memerintah atau memberi komando, mempunyai hak memberi komando, dan
bersifat mengharuskan. Dengan kata lain, kalimat imperatif adalah kalimat yang
di dalamnya mengandung perintah. Kalimat ini berfungsi untuk meminta / melarang
seseorang untuk melakukan sesuatu.
Contoh
Kalimat Imperatif :
- Buka
gerbang rumah sebelum ayah datang
- Buanglah
sampah itu pada tempatnya
- Berikanlah
ia sepotong roti
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Makna adalah arti atau
maksud yang tersimpul dari suatu kata, jadi makna dengan bendanya sangat
bertautan dan saling menyatu. Jika suatu kata tidak bisa dihubungkan
dengan bendanya, peristiwa atau keadaan
tertentu maka kita tidak bisa memperoleh makna dari kata itu (Tjiptadi, 1984:
19).
Makna
Leksikal dapat juga disebut makna sebenarnya. Makna Leksikal merupakan makna
yang sesuai dengan hasil observasi indra yang dimiliki manusia, sehingga makna
yang tercipta merupakan makna yang sebenarnya, apa adanya, dan terdapat dalam
kamus (makna dalam kamus sering disebut dengan makna dasar atau makna konkret).
Sebagaimana yang telah dipaparkan di bab sebelumnya makna leksikal memiliki
begitu banyak bentuk yang sangat perlu untuk kaji berulang kali, seperti : kata
sebagai unit makna, makna kata dasar (leksem), makna paduan leksem, makna kata
bebas, makna kata berimbuhan yang terdiri dari makna prefiks infiks sufiks
serta konfiks, makna kata berulang, makna kata dalam konteks, makna kependekan
serta makna kata plesetan. Dalam
sebuah kalimat pasti terdapat suatu makna yang akan di sampaikan dalam sebuah
pemahaman manusia.
3.2 Saran
Untuk
mengetahui lebih jauh dan lebih banyak bahkan lebih lengkap tentang pembahasan semantik terkhusus mengenaimakna
leksikan dan makna kamliamt, pembaca dapat membaca dan mempelajari buku-buku semantik atau buku-buku yang berhubungan
dengan kebahasaan dari berbagai pengarang, karena di dalam makalah ini penulis
hanya membahas garis besarnya saja tentang pembahassan bentuk
tunggal dan bentuk kompleks , Di sini penulis menyadari bahwa dalam
penyusunan makalah ini masih jauh dari sempurna, sehingga kritik dan saran yang
bersifat membangun untuk kesempurnaan
pembuatan tugas makalah-makalah selanjutnya sangat diharapkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar