Kamis, 16 November 2017

Makna Leksikal dan Makna Kalimat

BAB I
MAKALAH
SEMANTIK

  
   



Disusun oleh:
NURLIANA                  1501403033
                   




BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS COKROAMINOTO PALOPO
2017







KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmat dan karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas makalah ini yang berjudul “Makna Leksikal dan Makna Kalimat” dalam  semantik. Penulisan makalah ini bertujuan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah  semantic  bahasa Indonesia. Makalah ini ditulis berdasarkan berbagai sumber yang  berkaitan dengan materi.
Tak lupa penulis sampaikan terima kasih kepada pengajar mata kuliah semantic bahasa Indonesia atas bimbingan dan arahan dalam mata kuliah ini dan penulis berharap bagi pembaca untuk dapat memberikan pandangan dan wawasan agar makalah ini menjadi lebih sempurna kedepannya. Sekian dan terima kasih.


                                                                            Palopo, 14 Mei  2017

                                                            
                                                                                          Penulis







Daftar Isi
Sampul .........................................................................................................................................
Kata Pengantar ............................................................................................................................. i
Daftar Isi....................................................................................................................................... ii
BAB I Pendahuluan...................................................................................................................... 1
1.1  Latar Belakang.................................................................................................................. 1
1.2  Rumusan Masalah............................................................................................................. 1
1.3  Tujuan Penelitian............................................................................................................... 1
1.4  Manfaat ............................................................................................................................ 2
BAB II Pembahasan .................................................................................................................... 3
2.1  Makna Leksikal dan Makna Kalimat................................................................................ 3
2.1.1 Makna Leksikal........................................................................................................ 3
       2.1.1.1 Kata Sebagai Unit Makna.............................................................................. 3
       2.1.1.2 Makna Kata Dasar (Leksem)......................................................................... 3
       2.1.1.3 Makna Paduan Leksem.................................................................................. 4
       2.1.1.4 Makna Kata Bebas......................................................................................... 4
       2.1.1.5 Makna Kata Berimbuhan .............................................................................. 5
       2.1.1.6 Makna Kata Berulang.................................................................................... 7
       2.1.1.7 Makna Kata Dalam Konteks.......................................................................... 9
       2.1.1.8 Makna Kata Plesetan..................................................................................... 10
2.1.2 Makna Kalimat......................................................................................................... 12
       2.1.2.1 Kalimat Bermakna dan Kalimat Tak Bermakna............................................ 12
       2.1.2.2 Makna Semantis Unsur Kalimat.................................................................... 12
       2.1.2.3 Kalimat, Makna, Isi, dan Proposisi................................................................ 16
       2.1.2.4 Kalimat Sederhana dan Kompleks ................................................................ 17
       2.1.2.5 Makna Kalimat Interogatif dan  Deklartif .................................................... 18
       2.1.2.6 Makna Kalimat Imperatif .............................................................................. 19
BAB III Penutup.......................................................................................................................... 20
3.1  Simpulan ........................................................................................................................... 20
3.2  Saran ................................................................................................................................. 20
Daftar Pustaka.............................................................................................................................. iv














BAB I
PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
 Dalam semantik terdapat makna leksikal dan makna kalimat yang mengkaji beberapa hal didalamnya. Makna Leksikal merupakan makna yang sesuai dengan hasil observasi indra yang dimiliki manusia, sehingga makna yang tercipta merupakan  makna yang sebenarnya, apa adanya, dan terdapat dalam kamus (makna dalam kamus sering disebut dengan makna dasr atau makna konkret).
Kalimat sederhana adalah kalimat yang dibentuk oleh fungsi-fungsi pokok, yakni terdiri atas subjek, predikat, dan objek / pelengkap. Oleh karena itu kalimat sederhana selalu dibentuk oleh satu klausa. Kalimat sederhana sering pula disebut kalimat inti.
Banyak kajian teori mengenai bahasa. Salah satunya kajian tentang     semantik. Namun, pada umumnya teori dengan bukti lapangan seringnya tidak berjalan berdampingan. Oleh karena itu, penulis merasa perlu untuk menyusun makalah ini agar dapat membantu penulis pada khususnya dan pembaca pada umumnya untuk mengetahui materi mengenai semantik bahasa Indonesia, terkhusus  lagi pada makna leksikal dan makna kalimat

1.2   Rumusan Masalah 
Adapun rumusan  masalah dari makalah ini, yakni, bagaimanakah makna leksikal dan makna kalimat dalam semantik.

1.3  Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian dari makalah ini, yaitu : Untuk mengetahui makna leksikal dan makna kalimat dalam semantik.




1.4  Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian dari makalah ini yaitu, agar dapat membantu pembaca pada umumnya memahami makna leksikal dan makna kalimat dalam semantik bahasa Indonesia,
























BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Makna Leksikal dan Makna Kalimat
2.1.1   Makna Leksikal
Makna Leksikal dapat juga disebut makna sebenarnya. Makna Leksikal merupakan makna yang sesuai dengan hasil observasi indra yang dimiliki manusia, sehingga makna yang tercipta merupakan makna yang sebenarnya, apa adanya, dan terdapat dalam kamus (makna dalam kamus sering disebut dengan makna dasar atau makna konkret). Makna ini bersifat tetap dan pasti karena mengikuti kamus yang ada. Kamus yang menjadi acuan dalam bahasa Indonesia yakni Kamus Besar Bahasa Indonesia. Misalnya leksem ‘kuda’ merupakan sejenis binatang berkaki empat yang digunakan sebagai alat transportasi atau ‘air’ bermakna sejenis barang cair yang biasa digunakan untuk keperluan sehari-hari.

2.1.1.1  Kata Sebagai Unit Makna.
Kata adalah  suatu unit dari suatu bahasa yang mengandung arti dan terdiri dari satu atau lebih morfem. Umumnya kata terdiri dari satu akar kata tanpa atau dengan beberapa afiks. Gabungan kata-kata dapat membentuk frasa, klausa, atau kalimat.

2.1.1.2  Makna Kata Dasar (Leksem).
Makna dalam leksem yang dimaksud di sini, yakni bentuk yang sudah dapat di perhitungkan sebagai kata. Dalam BI terdapa bentuk seperti ini: kunci, lompat, makan, pagar tidur. Bentuk kunci dapat menghasilkan bentuk turunan dikunci, mengunci, dan kata pagar dapat diberi imbuhan sehing menjadi dipagari, memagari, terpagar. Kata kunci dan pagar telah memiliki makna leksikal. Dan demikian pula kata dikunci, mengunci, dipagari, memagari, terpagar.
Semantara itu bentuk lompat, makan, tidur dapat muncu dalam kalimat, misalnya “ ayo, lompat!” “Ayah, silakan makan!” “Sebaiknya engkau tidur sebab sudah larut malam.” Timbulah pertanyaan, apakah makna leksikal bentuk-bentuk seperti itu? Bentuk- bentuk seperti ini menurut Verhaar (1983:9) maknanya dapat dengan muda dicarai dalam kamus, misalanya didalam Kamus Besar Bahasa Indonesa (debdikbud, 1993)

2.1.1.3  Makna Paduan Leksem.
Ada  tiga istila yang perlu dicermati pada bagian ini, yakni idiom, kata majemuk, dan paduan leksem. Harimurti (1983:107) mengatakan, “Idiom adalah konstrintusi yang maknanya tidak sama dengan makna komponen-komponennya. “sedangan semi idion adalah konstrusi yang salah satu komponenya mengandung makna khas yang ada dalam konstruksi itu saja. Idiom misalya buah bibir yang bermakna bahan pembicaraan; busuk hati yang bermakna jahat, dengki, khianat; jantung hati yang bermakna orang yang disayanngi; makna angin bermakna jalan-jalan.
Kata majemuk adalah gabungan morfen dasar yang seluruhnya berstatus sebagai kata yang mempunyai pola fonologis, gramatikal, dan semantik yang khusus menurut kaidah bahasa yang bersangkutan. Makna kata majemuk bukanlah makna unsur-unsurnya, atau makna gabungan unsur-unsurny, tetapi makna baru, makana lain dari unsur-unsurnya. Contoh, batu api yang makna sejenis bahan yang dapat menimbulkan api yang ada di dalam geretan.

2.1.1.4  Makna Kata Bebas.
Yang dimaksud dengan kata bebas yaitu kata-kata yang dapat berdiri sendiri dalam ujaran tampa pendapat imbuhan atau tampa di dampingi kata yang lain. Kata bebas pada umumnya berkategori nomina. Ambilah kata arang. Kata arang bermakna:
1.  Bahan bakar yang hitam warnanya dibuat atau terjadi dari bara kayu yang dipengap
2.   Serbuk hitam bekas kayu yang di bakar (Depdikbud, 1993:54).
Ingin diingatkan  pula bahwa kata-kata bebas  dapat saja maknanya bergeser apabila kata-kata tersebut berada dalam kalimat. Contoh: kata kawat bermakna logam yang biasa dipakai sebagai tali. Kalau orang berkata, “kirim kawat kepadanya yang menyatakan bahwa kerabatnya telah meninggal, “makna kawat disini bukan lagi logam untuk tali, tetapi telegram atau berita yang dikirim melaui kantor Telkom.

2.1.1.5  Makna Kata Berimbuhan.
Makna proses afiksasi atau pengimbuhan berhubungan dengan fungsi semantik pada suatu bentuk yang kompleks. Hal tersebut dapat kita lihat pada beberapa contoh makna pengimbuhan (afiksasi) pada imbuhan berikut ini:
2.1.1.5.1Makna – makna prefiks meng-
·         Mengandung makna melakukan perbuatan. Contoh :
o   Mengambil (berarti melakukan perbuatan ambil)
o   Menjual (berarti melakukan perbuatan jual)
·         mengandung makna membuat. Contoh :
o    menyate (berarti membuat sate)
o    menggambar (berarti membuat gambar)
·         mengandung makna membuat dengan alat. Contoh :
o    menyabit (berarti membuat dengan alat sabit)
o    menyangkul (berarti membuat dengan alat cangkul)
·         mengandung makna menuju ke. Contoh :
o    melaut (berarti menuju ke laut)
o    menepi (berarti menuju ku tepi)
·         mengandung makna memberi. Contoh :
o    menandai (berarti memberi tanda)
o    menopang (berarti memberi topang)
o    menomori (berarti memberi nomor)
2.1.1.5.2. Makna-makna prefiks ber-:
·         mengandung makna mempunyai. Contoh :
o    beratap (berarti mempunyai atap)
o    beranak (berarti mempunyai anak)
o    berhasil (berarti mempunyai hasil)
·         mengandung makna mengeluarkan. Contoh :
o    bertelur (berarti mengeluarkan telur)
o    berbau (berarti mengeluarkan bau)
o    berkata (berarti mengeluarkan kata)
2.1.1.5.3. Makna-makna prefiks ter-
·         mengandung makna superlatif (paling). Contoh :
o    tercantik (berarti yang paling cantik)
o    tertinggi (berarti yang paling tinggi)
·         mengandung makna tidak sengaja. Contoh :
o    tertidur (berarti tidak sengaja tidur)
2.1.1.5.4. Makna-makna prefis peng-:
·         menyatakan sasaran atau mempunyai makna orang yang di-. Contoh :
o    pesuruh (berarti orang yang disuruh)
·         menyatakan pekerjaan atau mempunyai makna orang yang berprofesi  . Contoh :
o    pengajar  (berarti orang yang berfrofesi dalam hal mengajar)
2.1.1.5. Makna Sufiks-an
·         mengandung makna cara. Contoh :
o    Didikan  (berarti cara mendidik)
·         mengandung makna akibat atau hasil perbuatan. Contoh :
o    Hukuman  (berarti akibat dari hokum )
·         Mengandung makna sesuatu yang di-. Contoh :
o    Catatan  (berarti sesuatu yang dicatat)
2.1.1.6  Makna Kata Berulang.
Kata ulang merupakan kata yang mengalami perulangan kata sebagian atau seluruhnya dan mengakibatkannya makna yang berbeda-beda. Pengulangan adalah proses pembentukan kata dengan mengulang bentuk dasar, baik secara utuh maupun sebagian, baik dengan variasi fonem maupun tidak. (Soedjito, 1995: 109) sedangakan menurut ramlan ( 1985:57) menyimpulkan “Proses pengulangan atau reduplikasi adalah pengulangan satuan gramatik, baik seluruhnya maupun sebagiannya, baik dengan variasi fonem maupun tidak. Jadi kata ulang ialah kata hasil pengulangan bentuk dasar baik seluruhnya maupun bagiannya. 
Ciri-ciri bentuk kata dasar ulang bahasa Indonesia sebagai berikut:
1.  Kelas kata bentuk dasar kata ulang sama dengan kelas kata-kata ulangnya.
Berdasarkan ciri di atas dapat dikemukakan bahwa suatu suatu kata ulang berkelas kata benda (nomina), bentuk dasarnya pun berkelas kata benda, begitu juga, apabila kata ulang itu berkelas kata ulang berkelas kata kerja.
  Contoh :
Kata ulang
Bentuk dasarnya
Gedung-gedung (kata benda)
Gedung  (kata benda)
Sayur-sayuran (kata benda)
Sayur (kata benda)
Peraturan-peraturan(kata benda)
Peraturan ( kata benda)
Membaca-baca (kata kerja)
Membaca (kata kerja)
Berlari-lari (kata kerja)
Berlari (kata kerja)
Pelan-pelan (kata sifat)
Pelan (kata sifat)
Tiga-tiga (kata bilangan)
Tiga (kata bilangan)
2.     Bentuk dasar Kata Ulang Selalu Ada dalam Pemakaian Bahasa
Maksud dalam pemakaian bahasa adalah dapat dipakai dalam konteks kalimat. Misalnya, apabila kata ulang mengata-ngatakan dapat dapakai dalam kalimat Dia rupanya mengata-ngatakan persoalan itu kepada teman-temannya, bentuk dasarnya pun harus dapat dipakai dalam konteks kalimat. Bentuk dasanya adalah mengatakan (sebab hanya bentuk inilah yang dapat dipakai dalam konteks kalimat). Berdasrkan ciri-ciri berikut ini, beberapa contoh kata ulang beserta bentuk dasarnya dapat terlihat pada tabel berikut:
Kata ulang
Bentuk dasarnya
Melaku-lakukan
Melakukan bukan melaku
Menyatu-nyatukan
Menyatukan bukan menyatu
Melari-larikan
Melarikan bukan larika
Mempertunjuk-tunjukan
Mempertunjukan bukan mempertunjukan
Bergerak-gerak
Bergerak, bukan gerak (sebab kelas katanya berbeda dengan kata ulang)

3.     Arti Bentuk Dasar Kata Ulang selalu Berhubungan dengan Arti Kata Ulangnya
Berdasrkan ciri ini, jelaslah bahwa bentuk alun merupakan bentuk dasar dari kata alun-alun, bentuk undang bukan merupakan bentuk dasar undang-undang, bentuk agar bukan merupakan bentuk dasar agar-agar.
4.    Bentuk Ulang Ditulis dengan Menggunakan Tanda Hubung di antara unsur-unsurnya.
Misalnya: Anak-anak, mata-mata, berjalan-jalan, menulis-nulis, mondar mandir dan ramah-tamah.

2.1.1.7  Makna Kata dalam Konteks.
·         Makna Kontekstual
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Keempat, yang dimaksud konteks adalah bagian suatu uraian atau kalimat yang dapat mengandung atau menambah kejelasan makna. Menurut Susilo yang dimaksud dengan konteks adalah segenap informasi yang berada disekitar pemakaian bahasa, bahkan termasuk juga pemakaian bahasa yang ada disekitarnya (Preston, 1984:12).
Sarwiji (2008:71)  memaparkan bahwa makna kontekstual (contextual meaning; situational meaning) muncul sebagai akibat hubungan antara ujaran dan situasi pada waktu ujaran dipakai. Beliau juga berpendapat bahwa makna kontekstual adalah makna kata yang sesuai dengan konteksnya (2008:72). Dalam buku linguistik umum Chaer mengungkapkan bahwa makna kontekstual adalah makna sebuah leksem atau kata yang berada di dalam konteks.  Makna konteks juga dapat berkenaan dengan situasinya yakni tempat, waktu, lingkungan, penggunaan leksem tersebut (1994:290).
Dari beberapa uraian diatas maksud dari makna kontekstual dapat diartikan sebagai makna kata atau leksem yang berada pada suatu uraian atau kalimat yang dapat mengandung atau menambah kejelasan makna, yang dipengaruh oleh situasi, tempat, waktu, lingkungan penggunaan kata tersebut. Artinya, munculnya makna kontekstual bisa disebabkan oleh situasi, tempat, waktu, dan lingkungan. Misalnya, penggunaan makna kontekstual adalah terdapat pada kalimat berikut.
a.       Kaki adik terluka karena menginjak pecahan kaca.
b.      Nenek mencari kayu bakar di kaki gunung.
c.       Pensilku terjepit di kaki meja.
d.      Jempol kakinya bernanah karena luka infeksi.
Penggunaan kata kaki pada kalimat diatas, bila ditilik pada konteks kalimatnya memiliki makna yang berbeda. Pada kalimat (a), kata kaki berarti ‘alat gerak bagian bawah pada tubuh makhluk hidup’. Sedangkan pada kalimat (b), kata kaki disana memiliki arti ‘bagian bawah dari sebuah tempat’. Untuk kalimat (c), kata kaki merupakan ‘bagian bawah dari sebuah benda’. Berbeda dengan kalimat (d), kata kaki disana memiliki makna ‘bagian dari alat gerak bagian bawah makhluk hidup’. Kata kaki pada hakikatnya, mengandung maksud bagian terbawah dari sebuah objek. Tetapi, dalam penggunaa kata tersebut juga harus disesuaikan dengan konteks, sehingga tidak terjadi kesalahpahaman dalam pengartian kata kaki.

2.1.1.8  Makna Kata Plesetan.
Dalam hubungan dengan makna yang diplesetkan, Heryanto (dalam Pateda, 2011:153) membagi bentuk yang diplesetkan atas tiga jenis. Jenis Pertama, jenis plesetan untuk berplesetan itu sendiri. Pada jenis ini yang terjadi adalah kenikmatan bermain-main bahasa di dalam bahasa itu sendiri tanpa mempedulikan kaitannya dengan dunia di luar bahasa. Jenis pertama terdiri dari dua subkategori yakni:
1.  Subkategori pertama  merupakan plesetan yang menuntut kemahiran, mengundang tawa penonton dengan mendistorsi kata sehingga terbentuk kata-kata lain yang sebenarnya tidak mempunyai sangkut paut atau justru tidak bermakna tetapi terdengar lucu jika dibincangkan. Misalnya katapartisipasi dapat diplesetkan dengan bentuk partisisapi.
2.  Subkategori kedua yakni sejumlah graffiti yang mendistorsikan istilah pribumi menjadi sedikit kebarat-baratan tanpa sepenuhnya melenyapkan unsur pribumi itu. Misalnya pada kata warung Takashimura dapat diplesetkan dengan bahasa Jawa tak kasih murah.
Jenis Kedua merupakan plesetan alternatif yang mengajukan sebuah penalaran atau acuan alternatif terhadap yang sudah atau sedang lazim dalam masyarakat. Dalam plesetan jenis keduaini terjadi penjegalan terhadap sesuatu yang sudah lazim dalam masyarakat. Ada dua subkategori yakni:
1.    Subkategori pertama yaitu sejumlah praktik berbahasa di antara para remaja yang biasa disebut bahasa prokem atau walikan. Plesetan jenis prokem mrengubah penanda, bukan makna atau hubungan referensial dengan realitas di luar bahasa.
2.    Subkategori Kedua yakni plesetan seperti yang tampak pada karya-karya atau teater Putu Wijaya. Pada karya Putu Wijaya yang tak hanya sekadar memberikan lelucon-lelucon tetapi juga menampilkan persoalan-persoalan kehidupan masyarakat secarasungguh-sungguh. Dengan kata lain plesetan bukan untuk berpleset tapi plesetan yangmengandung kritik.
Jenis Ketiga yakni plesetan oposisi karena ia memberikan nalar dan acuan secara konfrontatif  betubrukan apa yang sudah atau sedang lazim dalam masyarakat. Plesetan jenis ini bukan sekadar menggantikan satu tanda atau makna dengan tanda atau makna lain, tetapi menjungkirbalikkan nilai perlawanan frontal terhadap tanda atau makna yang telah ada. Yang banyak menjadi sasaran plesetan jenis ini adalah singkatan. Misalnya singkatanRumah Sangat Sederhana (RSS), diplesetkan menjadi Rumah SangatSengsara.
Pada dasarnya jenis plesetan yang pertama (plesetan untuk berplesetan) tidak berminat menyampaikan pesan atau komentar apapun tentang realitas dunia di luar bahasa. Dengan kata lain, makna lepas dari acuan.
Plesetan jenis kedua (plesetan alternatif) menggugat penunggalan makna lazim tanpa berusaha meniadakan yang terlanjur lazim, sedangkan pada plesetan jenis ke tiga (plesetan oposisi), orang bukan terbuai pada kenikmatan bermain-main degan penanda, atau memberikan kemajemukan nilai alternatif pada acuan realitas, tetapi mengukuhkansuatu nilai tanding terhadap yang sudah lazim dalam masyarakat.
Plesetan merupakan gejala baru dalam penggunaan bahasa Indonesia. plesetan berhubungan dengan perkembangan pemikiran pemakai bahasa untuk menyampaikan pikiran, perasaan, dan kemauannya. Masalah kini, yakni, apakah plesetan dianggap sebagai senjata ampuh kaum lemah melawan kaum yang beruntung, atau plesetan hanya berbentuk pelarian diri dari kenyataan yang sulit.

2.1.2        Makna Kalimat.
2.1.2.1  Kalimat Bermakna dan Tak Bermakna
Makna adalah arti atau maksud yang tersimpul dari suatu kata, jadi makna dengan bendanya sangat bertautan dan saling menyatu. Jika suatu kata tidak bisa dihubungkan dengan  bendanya, peristiwa atau keadaan tertentu maka kita tidak bisa memperoleh makna dari kata itu (Tjiptadi, 1984: 19).
Sebagaimana yang diuraikan di atas kalimat bermakna merupakan kalimat yang apabila si penutur dan pendengar saling merespon suatu pembicaraan yang terjadi sehingga terjadilah proses komunikasi sebagaimana yang di inginkan (proses terjadinya makna). Kalimat tak bermakna merupakan sebuah kalimat yang apabila si penutur dan pendengar tidak saling satu pemahaman, kalimat tak bermakna ini juga dapat terjadi apabila terdapat kalimat yang tidak dapat dipahami atau rancu dari segi pemahaman serta susunan kalimatnya tidak beraturan.

2.1.2.2  Peran Semantis Unsur Kalimat
Analisis kalimat berdasarkan peran menagacu pada  makna pengisi unsur-unsur fungsional kalimat. Dan menurut (Verhaar, 1996) mengatakan, bahwa ‘peran’ adalah segi semantis dari peserta-peserta verba. Dan unsur-unsur peran ini berkaitan dengan makna gramatikal/sintaksis. Dengan pengisian unsur peran ini, dapatlah diketahui makna yang ada pada masing-masing unsur-unsur fungsional tersebut.
Makna pengisi unsur-unsur fungsional kalimat dapat diuraikan sebagai berikut.
·         Makna unsur pengisi subjek (S)
(Ramlan, 1996) mengemukakan beberapa kemungkinan makna unsur pengisi S, yaitu:
-          Menyatakan ‘pelaku’
Mislnya:
Seorang gadis membeli empat batang lilin.
            Mereka sedang mengerjakan tugas-tugas.
-          Menyatakan ‘alat’
Misalnya:
Bus-bus itu mengangkut penumpang.
Truk-truk itu mengangkut penumpang.
-          Menyatakan ‘sebab’
Misalnya:
Banjir besar itu sedang menghancurkan kota.
Perapian itu memanaskan kamar.
-          Menyatakan ‘hasil’
Misalnya:
Rumah-rumah murah banyak didirikan pemerintah.
Hotel-hotel mewah telah dibangun pengusaha.
-          Menyakan ‘tempat’
Misalnya:
Pantai kuta banyak dikujngi oleh orang.
Kebunnya ditanami pohon mangga.
-          Menyatakan ‘jumlah’
Misalnya:
Kaki anjing itu ada empat.
Rumah pengusaha itu tujuh buah.
·         makna unsur pengisi predikat (P)
(Ramlan, 1996) mengungkapkan, bahwa maka unsur pengisipredikat adala:
-          Meyatakan’perbuatan’
Misalnya:
Ria sedang belajar.
Gadis itu memetik bunga.
-          Menytakan ‘keadaan’
Misalnya:
Rambutnya hiatm dan lebat.
Rumah itu sangat besar.
-          Menyatakan’pengenal’
Misalnya:
Orang itu pegawai kedutaan.
Gedung itu gedung bupati.
-          Menyatakan ‘keberadaan’
Misalnya:
Para tamu berada di ruang depan.
Mereka bermukim di tepi pantai.

·         Makna unsur pengisi objek (O)
Kemungkinan makna unsur pengisi O adalah:
-          Menyatakan ‘penderita’
Misalnya:
Tuti mencuci pakaian.
Budi meletakan bonekanya.
-          Menyatakan ‘tempat’
Misalnya:
Para wisatawan mengunjungi pura besakih.
Petani itu menanami tegalannya dengan ubi-ubian.
-          Menyatakan ‘alat’
Misalnya:
Polisi menembakan pistolnya.
Pangeran itu mengayunkan pedangnya.

·         Makna unsur pengisi pelengkap (Pel)
Unsur pengisi pelengkap memilik makna sebagai berikut.
-          Menyatakan ‘penderita’
Misalnya:
Mahasiswa itu belajar bahasa indonesia.
Mereka bermain bola.
-          Menyatakan ‘alat’
Misalnya:
Tentara kita yang bersenjatakan  bambu runcing.
Anak itu berteduhkan daun pisang.

·         Makna unsur pengisi keterangan (K)
Makna unsur pengisi keterangan dapat dijelaskan sebagai berikut.
-          Menyatakan ‘tempat’
Misalnya:
Ria sedang belajar di kamar.
Ibu memasak di dapur.
-          Menyatakan ‘waktu’
Misalnya:
Bapak pergi ke bandung besok pagi.
Rapornya sudah diambil.
-          Menyatakan ‘cara’
Misalnya:
Pencuri itu lari dengan cepat.
Dia belajar dengan tekun.
-          Menyatakan ‘alat’
Misalnya:
Buruh itu mengangkut beras dengan truk.
Ani memotong kertas dengan gunting.
-          Menyatakan ‘sebab’
Misalnya:
Dia tidak masuk karena sakit.
Dia mendapat nilai jelek karena tidak belajar.

Berdasarkan urain di atas, tanpak bahwa fungsi, kategori, dan peran tidak ada hubungan satu lawan satu. Fungsi merupakan suatu ‘temapat’ dalam stuktur kalimat dengan unsur pengisi berupa bentuk bahasa yang tergolong dalam kategori tertentu dan mempunyai peran semantis tertentu.

2.1.2.3  Kalimat, Makna, dan Isi Proposisi.
Proposisi adalah suatu ekspresi verbal dari keputusan yang berisi pengakuan atau pengingkaran sesuatu predikat terhadap suatu yang lain, yang dapat dinilai bener atau salah

Jenis-jenis proposisi terbagimenjadi 4 bagian :
1. Proposisi berdasarkan Bentuk :
a. proposisi tunggal adalah proposisi yang memiliki 1 subjek dan 1 predikat.
Contoh : Unie menyayi
Ayah membaca Koran
b. Proposisi majemuk adalah proposisi yang memiliki 1 subjek dan lebih dari 1 predikat.
Contoh : Indra belajar bermain piano dan menyayi di studio
Adik Belajar bahasa indonesia dan membuat kalimat majemuk

2.Proposisi berdasarkan Sifat :
a. Proposisi Kategorial adalah proposisi dimana hubungan antara subyek dan predikatnya mempunyai syarat apapun
Contoh : Semua Perempuan di indonesia akan mengalami Menstruasi
Setiap mengendarai mobil harus memakai seftybeld
b. Proposisi kondisional adalah proposisi dimana hubungan antara subjek dan predikat membutuhkan syarat tertentu.
Contoh : Jika yogi lulus UN maka saya akan berikan hadiah
Jika saya lulus penelitian ilmiah maka saya akan mengadakan syukuran

3. Proposisi berdasarkan kualitas:
a. proporsisi positif, yaitu proporsisi dimana predikatnya mendukung atau membenarkan subjeknya.
Contoh : Semua gajah berbadan besar
Semua ilmuwan adalah orang pandai
b. proporsisi negatif, yaitu proporsisi dimana predikatnya menolak atau tidak mendukung subjeknya.
Contoh : Tidak ada wanita yang berjenggot
Tidak ada binatang yang bisa bicara

4. proporsisi berdasarkan kuantitas:
a.              proporsisi universal, yaitu proporsisi dimana predikatnya mendukung atau mengingkari semua.
Contoh : Semua warga Indonesia mememiliki KTP
Semua masyarakat mematuhi peratura lalulintas
b.              proporsisi spesifik / khusus, yaitu proporsisi yang predikatnya membenarkan sebagian subjek.
Contoh : Tidak semua murid patuh kepada gurunya

2.1.2.4  Kalimat Sederhana dan Kompleks
2.      Kalimat sederhana
Kalimat sederhana adalah kalimat yang dibentuk oleh fungsi-fungsi pokok, yakni terdiri atas subjek, predikat, dan objek / pelengkap. Oleh karena itu kalimat sederhana selalu dibentuk oleh satu klausa. Kalimat sederhana sering pula disebut kalimat inti.

contoh kalimat sederhana: Saya membeli jajan

2. Kalimat kompleks
Kalimat kompleks adalah kalimat yang telah mengalami perluasan , baik itu berupa penambahan fungsi keterangan ataupun dengan perluasan pada fungsi-wungsinya. Kalimat kompleks dapat terdiri atas satu klausa ataupun dua klausa. Kalimat kompleks
sering pula disebut kalimat luas.
contoh kalimat kompkeks: Saya membeli jajan di warung

2.1.2.5  Makna Kalimat Interogatif dan Deklaratif
Sesuai dengan makna asal dari kata interogasi, yang berarti pertanyaan. Kalimat interogatif memiliki perngertian sebagai kalimat yang di dalamnya mengandung pertanyaan. Kalimat ini berfungsi untuk menanyakan suatu informasi kepada orang lain.
Kalimat interogatif bisa dibedakan menjadi dua, yaitu :

1. kalimat interogatif yang membutuhkan jawaban Ya / Tidak
Contoh :
- Apakah kamu yang membawa kambing itu?
- Apakah dia orang yang akan menikahimu?
- Apakah ayahmu seorang polisi?

2. kalimat interogatif yang membutuhkan jawaban berupa informasi.
Contoh :
- Mengapa kamu pergi dari rumah?
- Di mana kamu akan tinggal setelah ini?
- Bagaimana cara untuk membuat roti?

      Dalam komunikasi sehari-hari kita membutuhkan kalimat yang sesuia dengan situasi, kondisi, dan tujuan komunikasi. Penggunaan kalimat secara tepat akan membantu keberhasilan komunikasi.

3.      Kalimat Deklaratif
Kata deklaratif berasal dari bahasa latin, declaratio, yang artinya pernyataan. Sedangkan pengertian kalimat deklaratif adalah kalimat berisi suatu pernyataan yang berfungsi untuk memberi informasi atau berita tentang sesuatu hal.
Contoh Kalimat Deklaratif :

- Orang tua saya telah kembali dari Mekkah
- Tadi pagi ada kecelakaan motor di depan rumah ani
- Saya akan menjenguk nenek di rumah sakit

2.1.2.6  Makna Kalimat Imperatif
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pengertian kalimat imperatif adalah kalimat yang bersifat memerintah atau memberi komando, mempunyai hak memberi komando, dan bersifat mengharuskan. Dengan kata lain, kalimat imperatif adalah kalimat yang di dalamnya mengandung perintah. Kalimat ini berfungsi untuk meminta / melarang seseorang untuk melakukan sesuatu.
Contoh Kalimat Imperatif :
- Buka gerbang rumah sebelum ayah datang
- Buanglah sampah itu pada tempatnya
- Berikanlah ia sepotong roti










BAB III
PENUTUP
3.1  Kesimpulan
Makna adalah arti atau maksud yang tersimpul dari suatu kata, jadi makna dengan bendanya sangat bertautan dan saling menyatu. Jika suatu kata tidak bisa dihubungkan dengan  bendanya, peristiwa atau keadaan tertentu maka kita tidak bisa memperoleh makna dari kata itu (Tjiptadi, 1984: 19).
Makna Leksikal dapat juga disebut makna sebenarnya. Makna Leksikal merupakan makna yang sesuai dengan hasil observasi indra yang dimiliki manusia, sehingga makna yang tercipta merupakan makna yang sebenarnya, apa adanya, dan terdapat dalam kamus (makna dalam kamus sering disebut dengan makna dasar atau makna konkret). Sebagaimana yang telah dipaparkan di bab sebelumnya makna leksikal memiliki begitu banyak bentuk yang sangat perlu untuk kaji berulang kali, seperti : kata sebagai unit makna, makna kata dasar (leksem), makna paduan leksem, makna kata bebas, makna kata berimbuhan yang terdiri dari makna prefiks infiks sufiks serta konfiks, makna kata berulang, makna kata dalam konteks, makna kependekan serta makna kata plesetan. Dalam sebuah kalimat pasti terdapat suatu makna yang akan di sampaikan dalam sebuah pemahaman manusia.

3.2  Saran

Untuk mengetahui lebih jauh dan lebih banyak bahkan lebih lengkap tentang pembahasan semantik terkhusus mengenaimakna leksikan dan makna kamliamt, pembaca dapat membaca dan mempelajari buku-buku  semantik atau buku-buku yang berhubungan dengan kebahasaan dari berbagai pengarang, karena di dalam makalah ini penulis hanya membahas garis besarnya saja tentang pembahassan bentuk tunggal dan bentuk kompleks , Di sini penulis  menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari sempurna, sehingga kritik dan saran yang bersifat membangun untuk kesempurnaan  pembuatan  tugas  makalah-makalah  selanjutnya sangat diharapkan.